Khotbah Minggu 25 Januari 2026  Hagai 2:1-9  To learn to live in the light of His presence and plan

1b datanglah firman TUHAN dengan perantaraan nabi Hagai, bunyinya:

2:2 (2-3) “Katakanlah kepada Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda, dan kepada Yosua bin Yozadak, imam besar, dan kepada selebihnya dari bangsa itu, demikian: 

2:3 (2-4) Masih adakah di antara kamu yang telah melihat Rumah ini dalam kemegahannya semula? Dan bagaimanakah kamu lihat keadaannya sekarang? Bukankah keadaannya di matamu seperti tidak ada artinya? 

2:4 (2-5) Tetapi sekarang, kuatkanlah hatimu, hai Zerubabel, demikianlah firman TUHAN; kuatkanlah hatimu, hai Yosua bin Yozadak, imam besar; kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri, demikianlah firman TUHAN; bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN semesta alam, 

2:5 (2-6) sesuai dengan janji yang telah Kuikat dengan kamu pada waktu kamu keluar dari Mesir. Dan Roh-Ku tetap tinggal di tengah-tengahmu. Janganlah takut!

2:6 (2-7) Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam: Sedikit waktu lagi maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat; 

2:7 (2-8) Aku akan menggoncangkan segala bangsa, sehingga barang yang indah-indah kepunyaan segala bangsa datang mengalir, maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan, firman TUHAN semesta alam. 

2:8 (2-9) Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas, demikianlah firman TUHAN semesta alam.

 2:9 (2-10) Adapun Rumah ini, kemegahannya yang kemudian akan melebihi kemegahannya yang semula, firman TUHAN semesta alam, dan di tempat ini Aku akan memberi damai sejahtera, demikianlah firman TUHAN semesta alam.”

1. Kata “rumah” digunakan tiga kali untuk merujuk pada Bait Suci Yerusalem, sebuah rujukan yang tidak pernah kita temukan dalam Habakuk atau Yoel. Inilah yang membuat Nabi Hagai begitu tidak biasa. Ia membahas kesejahteraan umum melalui lensa Bait Suci. Nabi Hagai jauh lebih terkait dengan ibadah. Kita harus melihat Bait Suci sebagai institusi yang berada di pusat kehidupan Israel. Bait Suci adalah simbol solidaritas, tatanan sosial yang kuat, dan kerja sama, telah hancur, kemuliaan (bahasa Ibrani ‘Ichabod’) yang kekal atas Yerusalem telah tiada, pergi. Keputusasaan tidak dapat dihindari.Kualitas bait suci kedua/ replacement yang lebih rendah daripada bait suci Salomo menjadi alasan kekecewaan/keputusasaan. Mudah sekali terjebak dalam kebiasaan. Orang-orang tua/anggota gereja senior mempengaruhi orang-orang muda, dan meskipun kekecewaan tidak diungkapkan secara terbuka,hal itu menghentikan pekerjaan mereka untuk melanjutkan pembangunan bait suci. Beberapa orang tua masih hidup, yang lebih memikirkan prestasi dan pencapaian masa lalu daripada tugas saat ini dan tanda-tanda harapan. Mereka mengecilkan hati orang lain, melebih-lebihkan keburukan, dan mencela pekerjaan Tuhan. Ada banyak jenis kebiasaan yang dapat mencengkeram kita, tetapi salah satu yang paling kuat adalah ini—kebiasaan masa lalu. Masa lalu menyimpan banyak keindahan bagi kita. Itu bisa menjadi sumber dorongan yang besar. Itu juga bisa menjadi jerat di leher kita.

2. Hagai tahu bahwa sebagian umatnya kesulitan untuk melepaskan masa lalu. Masa lalu tampak begitu hebat, dan tampaknya semakin hebat seiring berjalannya waktu. “Oh, seandainya kita bisa kembali ke masa-masa kejayaan! Keadaan begitu baik saat itu! Orang-orang yang mengeluh dan bersungut-sungut ada di setiap zaman. Jika zaman ini buruk, apa yang kita lakukan untuk memperbaikinya? Ada orang-orang yang dikuasai oleh kekuatan pemikiran negatif, yang hanya dapat melihat masalah dan bukan kemungkinan. Janganlah kamu berkata, ‘Mengapa hari-hari yang lalu lebih baik daripada hari-hari ini? Bila ada bertanya seperti itu, itu bukanlah orang bijak. Tidak ada gunanya bagi orang-orang di zaman Hagai untuk memikirkan betapa megahnya bait suci Salomo dibandingkan dengan pekerjaan pembangunan kembali yang mereka lakukan sendiri. Kita tidak dapat membangun seperti Salomo, oleh karena itu janganlah kita membangun sama sekali, demikianlah ungkapan keputusaan mereka. Semua orang menganggap pekerjaan itu terlalu remeh. Mereka terjebak dalam rutinitas masa lalu. Masih adakah di antara kamu yang telah melihat Rumah ini dalam kemegahannya semula? Dan bagaimanakah kamu lihat keadaannya sekarang? Bukankah keadaannya di matamu seperti tidak ada artinya. Pikiran yang sedang berkecamuk dalam benak umat Allah; masa lalu tampak begitu hebat, masa kini tampak begitu sulit, masa depan tampak begitu suram. 

Kita terlalu mudah menilai berdasarkan penampilan luar, dan melupakan penilaian Tuhan terhadap pekerjaan. Jangan pernah mengatakan bahwa Anda tidak melakukan apa pun, jika tidak dikelilingi oleh kemegahan lahiriah, dan tidak didukung oleh orang kaya dan bangsawan. Sesungguhnya, tidak ada yang layak bagi Allah. Karya-karya besar orang lain, dan bahkan hasil karya Salomo yang menakjubkanpun, semuanya kurang dari kemuliaan-Nya. Tuhan tidak menilai sesuatu berdasarkan penampilan. Hanya karena sesuatu tidak mengesankan bagi kita bukan berarti itu tidak penting bagi Tuhan. Ingat persembahan janda miskin? Dan bagaimana dengan pemilihan gembala Daud untuk menjadi raja Israel berikutnya? Tidak, bagi umat Hagai, proyek pembangunan bait suci itu tampaknya tidak terlalu penting. Tetapi itu penting bagi Tuhan. Ketahuilah ini. Jika Anda melakukan kehendak Tuhan, itu penting, apa pun itu. Tuhan senang menggunakan cara-cara yang tidak mengesankan untuk menunjukkan kasih karunia-Nya yang luar biasa. Mesias masuk ke dalam bangunan buatan manusia untuk menunjukkan kemuliaan-Nya. Dia juga melakukan hal yang sama dengan kehidupan kita. Kita hanyalah bejana tanah liat, namun Dia menunjukkan kemuliaan-Nya melalui kita (2 Korintus 3:18).

3. Mulai sekarang kita harus menolak untuk bersaing, menolak semua nilai intrinsik. Kita hanya berdoa agar kita dapat menggunakan karunia-karunia sederhana yang kita miliki untuk kemuliaan Tuhan. Kita tidak akan membandingkan diri kita dengan siapa pun, atau mencoba membangun harga diriku dengan mencatat di mana kita mungkin lebih unggul dari orang lain dalam melayani. Kita bersukacita atas keberhasilan mereka. Mereka memiliki karunia yang lebih besar. Kita dengan rendah hati bersyukur atas karunia mereka yang lebih besar dan karunia kita yang lebih kecil. Marilah kita melayani generasi kita sendiri sesuai dengan kehendak Allah.

Masalah yang dihadapi bangsa Israel bahwa masa depan tidak terlihat sebaik masa lalu. Saat mereka melakukan pekerjaan Tuhan, tampaknya apa yang mereka lakukan ke depan tidak sebaik apa yang mereka miliki sebelumnya.

Kita melihat kehidupan kita dan masa depan tampaknya tidak akan sebaik masa lalu kita. Sungguh mengecewakan untuk berpikir bahwa masa depan kita sama sekali tidak terlihat sebaik apa yang telah kita hilangkan di masa lalu. Sakit rasanya berada di titik kehidupan di mana kita merasa masa depan kita tidak akan semulia apa yang telah Tuhan berikan kepada kita sebelumnya. Di sinilah orang-orang ini berada. Sulit untuk melangkah maju ketika masa depan tidak terlihat sebaik masa lalu. Jadi Tuhan memiliki pesan untuk orang-orang yang menghadapi keputusasaan ini.

4. Terlepas dari alasan-alasan yang dikemukakan untuk putus asa, Tuhan menasihati mereka semua untuk berani untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Perbedaan zaman dan bangunan bukanlah alasan untuk berputus asa. Umur panjang adalah berkat bagi hamba Tuhan. Apa pun yang mereka pikirkan tentang pekerjaan itu, penilaian Allah sangat berbeda. Jangan menghakimi berdasarkan penampilan. Terlalu sering kegelapan yang merusak memasuki pikiran umat Allah. Tangan mereka mengendur, energi mereka lumpuh untuk pekerjaan Allah, dan mereka tenggelam dalam apatis dan kemalasan yang putus asa. Hagai mendorong umat itu untuk menyelesaikan proyek tersebut dengan menggunakan kata-kata “kuatkanlah hatimu” (ayat 4) atau beranilah. Umat itu membutuhkan dorongan untuk menyelesaikan tugas tersebut, karena mereka takut akan perlawanan.

5. Lanjutkan pekerjaan Tuhan dengan kekuatan dan keyakinan. Motivasi untuk pengabdian diperbarui. “Kuatkanlah hatimu dan bekerjalah: karena Aku menyertai kamu” (Hagai 2:4). Bekerjalah, atau berbuatlah. Hal-hal besar tidak akan tercapai tanpa tindakan. “Kuatkanlah hatimu, hai Yosua bin Yozadak, imam besar; kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri, demikianlah firman TUHAN; bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu.”

Sikap pasrah membunuh iman/ Resignation killed faith. Kita memiliki rasa puasa dengan apa yang kita miliki dan kita membutuhkan dorongan untuk memulai tindakan. Setiap orang membutuhkan penguatan terus-menerus. Jadilah kuat”. Tetapi ini bukanlah seruan untuk menjadi kuat dengan kekuatan sendiri. Ini adalah seruan untuk menjadi kuat di dalam Tuhan! Hagai tidak menawarkan korelasi paksa yang dipopulerkan oleh “injil kemakmuran” antara pengabdian kepada Tuhan dan jaminan kesuksesan.

Perjanjian Allah dengan mereka tidak berubah. “Sesuai dengan firman yang telah Kuperjanjikan kepadamu, ketika kamu keluar dari Mesir.” Kasih karunia kepada umat Allah dijamin oleh janji yang kekal dan tidak berubah. Hari-hari mungkin gelap dan pekerjaan umat-Nya mungkin sulit; tetapi mereka tetap menjadi objek perhatian-Nya seperti ketika perjanjian itu pertama kali diteguhkan. Mereka mungkin berdosa dan dihukum karena dosa mereka; tetapi sikap-Nya terhadap mereka bukanlah hasil dari kesewenang-wenangan atau perubahan. Ketidaksetiaan akan menjauhkan Tuhan dari kita, tetapi kembali kepada ketaatan akan memulihkan kasih dan pertolongan-Nya. “Perjanjian-Ku tidak akan Kubatalkan, dan apa yang telah keluar dari bibir-Ku tidak akan Kuubah.”

Kehadiran Allah bersama mereka dijamin. “Karena Aku menyertai kamu, firman TUHAN semesta alam.” Allah terus-menerus menyatakan bahwa kita tidak perlu takut. Kita perlu agar jaminan-jaminan ini diulang. Jika banyak musuh melawan kita, dan Tuhan semesta alam menyertai kita, ini seharusnya menguatkan kita. Kehadiran-Nya akan menggantikan kesulitan di masa lalu, membantu dalam tugas saat ini, dan mencukupi sepenuhnya untuk masa depan yang belum teruji. Janji-janji Injil dimeteraikan kepada kita oleh firman Bapa, darah Anak, dan kesaksian Roh.

Roh Allah bersama mereka tinggal selama-lamanya. “Demikianlah Roh-Ku tetap ada di antara kamu: janganlah kamu takut.” Roh Allah menyertai para pemimpin, mengilhami para nabi dan menguduskan para imam; bersama umat untuk pekerjaan tempat kudus (Keluaran 31:1), dan penguatan bagi yang lemah. Roh untuk membangkitkan semua orang untuk melakukan tugas (Ezra 5:1; Zakharia 4:6), dan menyingkirkan setiap rintangan dalam pelaksanaannya. Roh masih tinggal di dalam Gereja, membantu mewujudkan tujuan Ilahi dalam Kristus. “Engkau juga memberikan Roh-Mu yang baik untuk mengajar mereka.

6. Bait suci yang dibangun kembali akan lebih mulia daripada bait suci Salomo. bait suci yang dibangun kembali akan lebih mulia daripada bait suci Salomo. Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam: “Sekali lagi (tinggal sedikit waktu lagi) Aku akan mengguncangkan langit dan bumi, laut dan daratan; dan Aku akan mengguncangkan segala bangsa, dan mereka akan datang kepada Yang Dirindukan Segala Bangsa, dan Aku akan memenuhi bait suci ini dengan kemuliaan,” demikianlah firman TUHAN semesta alam. “Perak adalah milik-Ku, dan emas adalah milik-Ku,” demikianlah firman TUHAN semesta alam. “Kemuliaan bait suci yang terakhir ini akan lebih besar daripada yang pertama,” demikianlah firman TUHAN semesta alam. Penyelesaian bait suci akan ditandai oleh peristiwa yang mengguncang bumi yang akan memberi isyarat kepada bangsa-bangsa di dunia untuk datang ke bait suci (ayat 6-7). Harta kekayaan bangsa-bangsa muncul sebagai perak dan emas dalam ayat 8 dan akan berkontribusi pada kemegahan bait suci yang lebih besar (Hagai 2:9).

Mereka tidak perlu berkecil hati jika mereka tidak memiliki uang untuk proyek pembangunan tersebut. Mereka harus dengan berani mempercayai Tuhan yang memiliki setiap sumber daya, dan kemudian memberi dengan murah hati. Ketika kita benar-benar percaya kepada Tuhan, kita akan memberi dengan murah hati. Mengetahui bahwa Tuhan menyediakan seharusnya membuat kita lebih murah hati. Orang-orang Yahudi mengalami banyak kesulitan, tetapi kehadiran Allah menjamin damai sejahtera dan perlindungan.

7. Bagi orang-orang di zaman Hagai, segala sesuatu yang berkaitan dengan Kristus, gereja, dan akhir zaman adalah masa depan. Tetapi bagi kita yang hidup di akhir zaman, karya eskatologis Kristus sudah terjadi dan belum sepenuhnya tergenapi. Dan dari pembacaan Hagai yang cermat dalam terang seluruh Alkitab, menjadi jelas bagaimana Kristus dengan luar biasa menggenapi janji tentang bait suci yang lebih besar di kemudian hari.

Bait suci inilah yang kita lihat sedang dibangun oleh Kristus melalui Roh dan Firman-Nya saat ini, dan di dalamnya kita dipanggil untuk menjadi bagian dalam ibadah, kesaksian, dan pekerjaan kita. Untuk tujuan itu, marilah kita bekerja sambil berpegang teguh pada batu penjuru bait suci eskatologis ini, memberitakan kematian dan kebangkitan-Nya sampai Dia datang kembali.

Orang Kristen sedang membangun “bait suci” untuk kemuliaan Allah, tetapi bait suci itu bukan terbuat dari batu dan kayu aras. Tubuh gereja adalah bait Roh Kudus tempat kemuliaan Allah bersemayam (1 Kor. 6:19). Agar kemuliaan Allah dapat dinyatakan melalui tubuh itu;

–  Semua puing dosa harus disingkirkan (1 Kor. 6:15-20); 

– Setiap batu (orang Kristen) dalam persekutuan harus terus-menerus dibentuk menjadi gambar Kristus (Rm. 8:29); dan (

– Bangunan yang dibangun dari emas, perak, dan batu permata harus diletakkan dengan benar di atas dasar Kristus (1 Kor. 3:11-12). Amin

Leave a comment