Khotbah Minggu 11 January 2025 Yesaya 42:1-9  Gentle does not Necessarily Mean Weak

42:1 Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa. 

42:2 Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan. 

42:3 Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum. 

42:4 Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya. 

42:5 Beginilah firman Allah, TUHAN, yang menciptakan langit dan membentangkannya, yang menghamparkan bumi dengan segala yang tumbuh di atasnya, yang memberikan nafas kepada umat manusia yang mendudukinya dan nyawa kepada mereka yang hidup di atasnya: 

42:6 “Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa, 

42:7 untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara. 

42:8 Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung. 

42:9 Nubuat-nubuat yang dahulu sekarang sudah menjadi kenyataan, hal-hal yang baru hendak Kuberitahukan. Sebelum hal-hal itu muncul, Aku mengabarkannya kepadamu.”

1.   Minggu hari pembaptisan Yesus. Yesus sebagai hamba yang ditulis oleh Yesaya.  Hamba itu diidentifikasi sebagai Yesus. Yesus bisa saja mengambil gelar apa pun. Dia bisa datang sebagai raja atau penakluk. Tetapi Dia memilih untuk datang sebagai hamba. Dia merendahkan diri-Nya untuk menjadi manusia. Kemudian Dia merendahkan diri-Nya lebih jauh untuk menjadi hamba manusia.  Pada Minggu Baptisan Yesus ini, Yesus membiarkan dirinya dibaptis sebagai orang berdosa biasa, meskipun Dia tidak memiliki dosa. Dia membiarkan dirinya diidentifikasi dengan orang-orang rendah hati. Ini menandai awal era keselamatan baru.

Jadi Yesus memilih untuk mengidentifikasi diri-Nya tidak dengan yang berkuasa, tetapi dengan yang tidak berdaya. Jika kita memilih untuk mengidentifikasi diri tidak hanya dengan yang berkuasa, tetapi dengan yang tidak berdaya; jika kita mempertahankan kemampuan untuk membayangkan diri kita berada dalam kehidupan orang-orang yang tidak memiliki keuntungan, maka bukan hanya keluarga kita yang bangga yang akan merayakan keberadaan kita, tetapi ribuan dan jutaan orang yang realitasnya telah kita bantu untuk berubah menjadi lebih baik. Kita tidak membutuhkan sihir untuk mengubah dunia, kita sudah memiliki semua kekuatan yang kita butuhkan di dalam diri kita sendiri: kita memiliki kekuatan untuk menjadikan hal yang lebih baik. Orang berkata, kita harus belajar bagaimana bertarung, ada yang mengatakan beberapa orang dilahirkan sebagai pejuang, yakinlah  kita tidak dilahirkan dengan keinginan itu. Beberapa dari kita dipaksa oleh kehidupan untuk mengangkat senjata dan bertarung. Kuncinya terletak pada mengetahui kapan harus menggunakan senjata itu dan kapan harus meletakkannya. Kapan harus bertarung dan belajar kapan harus bersikap lembut. Kiranya momen lembut kita jauh lebih banyak, lebih unggul, dan lebih lama daripada momen-momen pertempuran kita. Lembut tidak selalu berarti lemah. Kelembutan mungkin tampak lemah, tetapi penampilan itu bisa menipu. Dan itulah yang terjadi pada Yesus.

2.  Kita hidup di bawah asumsi bahwa “lebih besar lebih baik.” Kita hidup di zaman sensasionalisme. Yesus tidak berusaha untuk menghasilkan pernyataan-pernyataan sensasional. Sikap-Nya sangat kontras dengan banyak politisi dan tokoh media saat ini. Banyak yang berusaha menarik perhatian, mendapatkan klik, suka, dan popularitas melalui judul dan frasa yang menarik perhatian. Dia tidak akan mencari ketenaran atau pengikut melalui gertakan. Yesus tidak seperti itu. Berkali-kali, daripada menarik perhatian pada diri-Nya sendiri, Dia menyuruh orang-orang yang Dia sembuhkan untuk merahasiakannya. Ini adalah Anak Allah yang pergi berperang, perang yang tidak dapat kita lihat dengan mata kita. Dapatkah kita membayangkan ada orang-orang melakukan seperti  itu saat ini? Yesus layak menerima kemuliaan dan tidak mencarinya. Kita tidak layak menerima kemuliaan dan sering mencarinya. Ketika kita tahu kita berharga, kita tidak perlu meninggikan suara kita tidak perlu menjadi kasar, kita tidak perlu menjadi vulgar, kita hanya apa adanya. Cinta tidak selalu berisik dan kentara, Mungkin terkadang cinta datang diam-diam atau menyamar. Kita mungkin tidak langsung berpikir bahwa kelembutan dan efektivitas dapat berjalan bersamaan.

3. Seseorang berkata penyembuhan dimulai bukan dengan berteriak lebih keras, tetapi dengan belajar untuk memeluk lebih lembut. Hamba yang disebutkan Yesaya tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan. Kata yang selalu  digunakan orang tua kepadanya anaknya adalah tangguh, meskipun anak laki-lakinya itu tampak lembut, Mengapa masyarakat membanggakan hati yang terbuat dari batu? Seolah-olah sesuatu yang tidak berperasaan dan beku lebih unggul daripada sesuatu yang hangat dan berdetak.

Kita selalu memberi tekanan yang mengerikan pada pikiran kita. Ketika kita mengencangkan atau mengeraskan pandangan atau keyakinan kita, kita kehilangan semua kelembutan dan fleksibilitas yang menciptakan tempat berlindung. Kata “lembut” terkadang memiliki konotasi negatif yang dikaitkan dengan kelemahan. Kata yang diterjemahkan sebagai “lembut” dalam bahasa aslinya juga dapat berarti “ramah,” “berhati lembut,” “baik hati,” dan “memiliki atau menunjukkan sifat yang bijaksana atau lembut.” Kemarahan berarti “murka” atau “amarah.”Jawaban lembut, respons yang ramah, bijaksana, sabar, atau penuh pengertian yang meredakan kemarahan dan mencegah eskalasi. Yesus kuat ketika Dia perlu kuat. Dia tidak mundur atau berkompromi dengan orang-orang Farisi. Dia mengajar dengan otoritas. Yesus menggunakan kekuatan-Nya untuk melindungi orang lain, bukan diri-Nya sendiri.

4. Apakah kita mengidentifikasi diri kita sebagai seorang hamba? Identitas inti Yesus adalah seorang hamba. Kita tidak perlu mengejar gelar. Kita dipanggil untuk melayani. Marilah kita mengambil mentalitas dari Dia yang kita ikuti dan menjadi seorang hamba. Seorang hamba menempatkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhannya sendiri. Seorang hamba mengambil inisiatif untuk melakukan apa yang perlu dilakukan daripada menunggu orang lain melakukannya. Seorang hamba merendahkan diri untuk melakukan tugas-tugas yang tidak ingin dilakukan orang lain.

Ini adalah bagian yang dibacakan setelah penobatan raja baru. Itu adalah pengingat bagi raja dan bangsa bahwa para pemimpin, melayani bukan untuk keuntungan mereka sendiri, bukan dari kekuasaan mereka, tetapi sebagai hamba Tuhan yang memanggil dan memperlengkapi mereka untuk melayani. Itu adalah perayaan pemerintahan baru yang dimulai dengan harapan. Seandainya semua pemimpin kita melihat diri mereka terlebih dahulu sebagai hamba, betapa besar perbedaan yang mungkin terjadi dalam pemerintahan.

5. Yesus dibaptis seperti itu agar Dia dapat mulai melihat sumbu yang pudar nyalanya dan  yang patah terkulai buluh di dunia setara dengan  mereka. Tentu saja, itu hanyalah awal dari pelayanan yang akan mencapai puncaknya di kayu salib yang berlumuran darah.

Buluh, biasanya ia tumbuh di rawa yang berbau busuk dan tidak menyenangkan. Tidak ada yang menarik tentang buluh, dan tentu saja tidak ada yang menyenangkan tentang keadaan di mana ia hidup! Buluh yang sesuatu yang telah hancur, atau terluka oleh kekejaman, kehidupan yang entah bagaimana bengkok dan memar dan hancur, tanpa kekuatan atau keindahan. Alih-alih obor, terbakar dengan api roh, mungkin kita merasa seperti lilin kecil yang akan padam.

Buluh yang patah: Melambangkan seseorang yang terluka secara fisik atau spiritual, lemah, dan hampir roboh, yang mungkin akan dibuang oleh orang lain. Sumbu yang redup merujuk pada lampu dengan sedikit minyak, menghasilkan lebih banyak asap daripada cahaya, melambangkan seseorang yang iman atau harapannya hampir padam.

Alih-alih mematahkan atau memadamkan, Dia menguatkan dan menghidupkan kembali percikan yang redup, membawa keadilan dan kemenangan sejati. Kita menyebut diri kita orang Kristen tetapi lebih banyak asap daripada api: begitu sedikit doa, begitu sedikit kesaksian yang nyata, tettapi begitu banyak depresi dan keputusasaan dan keluhan.

5.  Buluh yang patah terkulai dan sumbu yang hampir padam mengacu pada orang-orang yang cacat atau rusak secara spiritual. Mungkin mereka terluka secara emosional. Mereka adalah orang-orang lemah, orang sakit, dan orang berdosa yang dilayani oleh Yesus. kita mungkin seperti “buluh yang patah” dalam beberapa hal hari ini. Anda mungkin tertekan oleh masalah dunia ini. kita mungkin bergumul dengan keraguan dan ketakutan. kita mungkin lemah dan putus asa dan siap untuk menyerah. Tetapi ketahuilah ini: Yesus peduli. Dia akan berbelas kasihan kepada orang-orang yang patah hati. Sejujurnya, kita semua adalah alang-alang yang remuk dan sumbu lampu yang redup di mata Tuhan, tetapi Dia tidak membuang kita atau memadamkan kita. Apakah kita terluka? Berbahagialah, Dia memanggil kita; jangan sembunyikan luka-lukamu, bukalah semuanya di hadapan-Nya. Penderitaanmu perlu dihormati. Jangan mencoba mengabaikan rasa sakit, karena itu nyata. Biarkan rasa sakit itu melembutkanmu daripada mengeraskanmu. Biarkan rasa sakit itu membuka dirimu daripada menutup dirimu. Biarkan rasa sakit itu membuatmu mencari orang-orang yang akan menerimamu daripada bersembunyi dari orang-orang yang menolakmu.”

Bayangkan batang itu ditiup angin kencang, dipelintir ke sana kemari. Itulah gambaran buluh yang patah yang diberikan kepada kita di sini. Kita mungkin melihatnya dan berpikir sudah selesai, jadi kita mematahkannya, tetapi hati dan belas kasihan seorang hamba, ketika melihatnya, tidak akan memilih untuk mematahkannya karena dia datang untuk memulihkan apa yang rusak. Dunia mungkin menghantam kita, melukai kita, dan membuat kita rapuh – tetapi Kristus telah datang untuk memulihkan kita dan membuat kita utuh di dalam Dia. Ini adalah rujukan lain kepada karakter Yesus yang lembut.

6. Yesus memandang kita seperti seorang pematung ulung memandang sepotong batu. Kebanyakan orang hanya akan melihat batu atau sepotong kayu yang jelek. Pematung melihat dengan mata yang berbeda. Dia memikirkan apa yang dapat Dia buat dari batu itu. Kemudian Dia memahat bagian yang berlebihan dan menciptakan sebuah karya seni yang indah. Banyak dari kita seperti buluh yang remuk, dan kita perlu dikuatkan dengan kuasa melalui Roh-Nya di dalam batin kita (Efesus 3:16). Yang lain seperti sumbu yang berasap dan hanya dapat menyala terang kembali bagi Tuhan ketika kita dibasahi minyak, dengan pasokan yang terus menerus, saat kita dipenuhi dengan Roh Kudus.

Pikirkan tentang buluh yang patah terkulai dan sumbu yang hampir padam yang dipelihara dan dipulihkan oleh Yesus; Petrus setelah menyangkal Yesus tiga kali. Para murid, berulang kali berdebat tentang siapa yang akan menjadi yang terbesar. Perempuan Samaria yang merupakan orang buangan sosial. Matius dan Zakheus, para pemungut pajak. Perempuan yang menderita pendarahan selama dua belas tahun. Perempuan yang tertangkap berzina. Ketika Yesus melihat seseorang yang telah gagal atau sedang berjuang, Dia tidak mengusir orang itu. Dia berusaha untuk memelihara dan menyembuhkan. Tidak ada seorang pun yang terlalu hancur untuk Dia perbaiki. Tidak ada seorang pun yang terlalu terluka untuk Dia sembuhkan. Tidak ada seorang pun yang terlalu berdosa untuk Dia ampuni. Ketika Yesus memandang kita, Dia tidak fokus pada kehancuran. Dia tidak akan menolak kita meskipun beberapa orang di dunia mungkin menolak kita. Dia tidak fokus pada siapa kita saat ini, tetapi pada apa yang dapat Dia lakukan untuk  kita. Bagi Yesus beberapa hal tidak perlu diperbaiki — hanya perlu dipeluk. Kita tidak perlu sempurna untuk dipeluk, atau dijamah Yesus. Cukup bersedia. Kita semua adalah barang yang rusak, tetapi Dia tetap menerima kita dan menyembuhkan kita. Saat kita menyadari kasih-Nya kepada kita, biarlah kasih kita kepada-Nya meningkat. Jangan putus asa, keputusasaan menunjukkan bahwa kita sepenuhnya mengendalikan dan mengetahui apa yang akan terjadi. Tidak ada sesuatu pun yang pada dasarnya bersifat bencana bahkan kematian pun hanya mengerikan jika kita takut padanya.Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum. Kita seharusnya tidak menertawakan kemalangan orang lain. Dunia mengejek mereka yang bodoh, malu, atau membuat kesalahan.

7. Filosofi-Nya sangat kontras dengan dunia. Model evolusi mengajarkan kelangsungan hidup yang terkuat. Mereka berusaha untuk membasmi orang-orang yang mereka anggap lemah. Mereka percaya bahwa yang kuat harus mendominasi dan menghancurkan mereka yang tidak dapat membela diri.

Mereka berusaha untuk membasmi orang-orang yang mereka anggap lemah. Mereka percaya bahwa yang kuat harus mendominasi dan menghancurkan mereka yang tidak dapat membela diri. Mereka berusaha untuk membasmi orang-orang yang mereka anggap lemah. Mereka percaya bahwa yang kuat harus mendominasi dan menghancurkan mereka yang tidak dapat membela diri.

Hamba itu melaksanakan tugas ini tanpa kekerasan: Ia tidak berseru dengan suara keras, juga tidak menghancurkan mereka yang sudah berada di ambang kehancuran, tetapi melanjutkan pekerjaannya sampai ditegakkan di seluruh dunia (secara harfiah, “di pulau-pulau”).

8. Apa yang paling membuat kita khawatir saat ini? Itu mungkin pertanyaan yang sulit karena ada begitu banyak hal yang perlu dikhawatirkan. Begitu banyak hal terjadi sehingga hal-hal kecil pun terasa lebih berat dari biasanya. Saat ini, hal-hal kecil terasa seperti masalah besar. Belum lagi ketika kita menyalakan berita; apa yang terasa buruk dalam hidup kita tampak lebih buruk secara global: perang, kebakaran hutan, pemerintahan yang runtuh, meningkatnya rasa isolasi dan keinginan untuk menyelamatkan diri sendiri. Hidup itu rumit, dan dunia tampaknya semakin gelap; bahkan masa-masa ketika para politisi berbicara tentang hari-hari yang lebih baik dan harapan telah berlalu. Sulit untuk mengetahui apa yang harus dilakukan dengan perasaan khawatir dan tanpa harapan seperti itu. Terutama sebagai orang Kristen, kita tahu bahwa kita seharusnya menjadi umat yang penuh harapan karena harapan kita bukan berasal dari dunia ini. Banyak orang dewasa ini meninggalkan iman karena semua penderitaan dan ketidakadilan di dunia. Yesaya 42:1-9 mengingatkan kita tentang siapa Dia dan apa yang telah Dia lakukan, memperkenalkan hamba-Nya sebagai harapan bangsa-bangsa, Dia yang membawa keadilan, penyembuhan, dan terang. Alih-alih kontras dengan dunia yang hancur, harapan disajikan dan ditegakkan dalam bentuk hamba! Hamba yang akan ditegakkan dan dikasihi oleh Allah.

9. “Hidup kita mulai berakhir pada hari kita diam tentang hal-hal yang penting.” (Martin Luther King). Penerimaan hamba terhadap situasinya tanpa keluhan atau celaan disajikan sebagai contoh bagaimana ia “menegakkan keadilan.” Jalan seorang hamba bukan berarti kelemahan; kelembutan bukanlah ketakutan, dan kerendahan hati bukanlah kurangnya keyakinan. Jalan seorang hamba hanyalah hati Allah yang berlawanan dengan dunia. Hati yang ditandai bukan hanya kerendahan hati tetapi juga belas kasihan. Bagaimana kita, sebagai umat Allah saat ini, dapat membentuk tindakan dan perilaku kita agar sesuai dengan kita sebagai hamba Allah, orang-orang yang menyenangkan hati Allah? Apakah kita hamba Allah, yang menegakkan keadilan di bumi seperti di surga? Bagaimana kita menjalankan misi hamba dan menghayati janji baptisan kita? Setiap kali kita menolak tangan Keadilan, Kekerasan hampir selalu ikut campur. Tuhan mengharapkan kita untuk memberikan terang dalam bentuk visi dan pencerahan spiritual. Terang yang digambarkan Yesaya bukanlah lampu sorot seperti yang kita temukan di bandara. Itu adalah nyala api kecil yang berkedip-kedip. Gereja tidak harus menjadi kekuatan yang kuat dalam masyarakat. Sebaliknya, gereja adalah tentang membiarkan terang bersinar. Orang cenderung meremehkan kekuatan terang mereka. Mereka berpikir bahwa kecuali mereka bersinar terang atau memancarkan sinar cahaya yang besar, mereka tidak dapat efektif.

Orang-orang cenderung percaya bahwa apa yang mereka lakukan tidak berarti. Mereka merasa rendah diri dan kurang percaya diri. Mereka tidak menyadari seberapa jauh terang mereka dapat menjangkau. Pendekatan yang harus kita ambil jauh lebih halus. Dunia dipenuhi dengan kebutaan, kegelapan, dan perbudakan dosa. Yang dibutuhkan untuk membebaskan orang-orang dari dunia kegelapan mereka hanyalah nyala api terkecil. marilah kita mengangkat mata kita kepada harapan Sang Hamba, hidup dalam terang janji-janji-Nya, dan membawa keindahan harapan-Nya ke dunia. Amin.

Leave a comment