Khotbah Minggu 20 Oktober 2024 ROMA 12:1-8 What does It Mean To be a Living Sacrifice?
12:1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
12:2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
12:3 Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.
12:4 Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama.
12:5 demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain.
12:6 Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita.
12:7 Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar.
12:8 jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.
- Paulus tampaknya membahas situasi khusus gereja Roma, yang mencakup kehadiran, dan ketegangan antara orang-orang Kristen Yahudi dan non-Yahudi dalam organisasi gereja yang sama. Dalam suratnya kepada mereka yang berada di bawah Kekaisaran Romawi, Paulus membujuk komunitas Kristen yang tinggal di pusat kekaisaran untuk tidak hidup menurut ideologi politik Roma, tetapi untuk menjalani iman atas dasar apa yang Allah lakukan dalam kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus. Karena Allah telah menunjukkan kepada umat-Nya “kasih karunia [oiktirmon],” tulis Paulus, kita memiliki alasan yang tepat untuk mempersembahkan (parestesai) “tubuh kita sebagai persembahan yang hidup [somata thysian], yang kudus [hagion] dan yang berkenan [euareston] kepada Allah.” Kehidupan yang Paulus ajarkan kepada orang Kristen di Roma, dan kita yang hidup di abad ke-21, adalah kehidupan yang memperlihatkan hakikat Allah, Yesus Kristus, dan Roh Kudus. Dengan kata lain, kehidupan yang kudus adalah kehidupan yang melaluinya semua perkataan dan perbuatan seseorang diatur oleh kehidupan yang penuh pengorbanan (Roma 12:1; lihat juga Yesaya 6:3; Filipi 2:5-11).
- Ide tentang mempersembahkan telah ada selama umat manusia ada. Pengorbanan selalu menjadi bagian dari penyembahan manusia. Ketika Paulus memberi tahu orang-orang Romawi bahwa mereka harus mempersembahkan tubuh mereka kepada Tuhan sebagai persembahan yang kudus dan hidup, ia tidak bermaksud bahwa mereka harus dibunuh secara ritual atas nama Tuhan. Yesus telah melakukannya sekali untuk kita semua. Paulus bermaksud bahwa mereka harus mempersembahkan soma (soma) mereka – hati, jiwa, pikiran, dan tubuh mereka; keseluruhan mereka – kepada Tuhan. Hal itu berarti “Tiga T” ; time, talent and treasure; -waktu, bakat, dan harta. Ingatlah juga bahwa waktu dan bakat kita berperan dalam pemberian pengorbanan ini sama seperti harta kita. Pikirkan tentang bagaimana kita memberikan waktu kita dan bagaimana kita menggunakan bakat yang diberikan Tuhan. Tuhan memberkati pekerjaan Anda setiap hari, bukan hanya pada hari Minggu. Bagaimana Anda menggunakan waktu yang telah Tuhan berikan kepada Anda, dalam kata-kata Paulus, merupakan bagian dari penyembahan rohani Anda. Apakah kita ingin mempersembahkan tubuh kita sebagai korban yang hidup dan diperbarui sebagaimana Paulus menantang kita? Maka berusahalah untuk menghayati imanmu dan menggunakan karuniamu dengan cara yang paling baik untuk memberi sumbangan bagi tubuh Kristus! Satu-satunya cara yang akurat untuk memahami diri kita sendiri adalah melalui siapa Tuhan dan apa yang Dia lakukan bagi kita, bukan melalui siapa kita dan apa yang kita lakukan bagi-Nya. Jadi, apa artinya menjadi persembahan yang hidup? Itu berarti mempersembahkan kepada Tuhan totalitas hidup kita, rencana kita, aktivitas kita, dan tubuh kita. Spiritualitas bukanlah sesuatu yang terpisah dari ruang fisik yang kita huni. Kehidupan sehari-hari adalah tempat pengudusan kita terwujud. Pengudusan adalah proses menjadi kudus dan itu adalah perjalanan seumur hidup.
- Menyembah Allah yang diberitakan dalam surat ini, dan di seluruh Kitab Suci, berarti mengambil sikap rendah hati dan penyangkalan diri. Dalam Kitab Suci, pembaca melihat ketertarikan Allah kepada kerendahan hati yang melaluinya Allah memanggil (misalnya, Lukas 1:46-56). Perhatikan bentuk jamak tubuh, bentuk tunggal pengorbanan. Penyembahan bukan hanya petualangan hari Minggu, tetapi praktik pengorbanan sehari-hari. Cara orang Kristen menjalani hidup mereka di dunia saat ini seharusnya mencakup penyembahan baik di dalam maupun di luar gedung gereja. Dalam Roma 12:1, Rasul Paulus tampaknya mengajukan pertanyaan berikut: Di manakah Allah dalam hidupmu?
- Standar dunia terus berubah. Didorong oleh teknik pemasaran yang cerdik dan teknologi yang luar biasa, kita terus-menerus diberi tahu bahwa kita membutuhkan hal baru berikutnya agar bisa mengikuti perkembangan zaman. Kita ingin menyesuaikan diri dengan budaya tempat kita tinggal.
Kata “menyesuaikan diri” berarti mengatur ulang bentuk, atau warna, atau rupa sesuatu. Itu kosmetik; itu sementara. Paulus berkata, “Janganlah kamu mengikuti dunia ini. Sebaliknya,” tulis Paulus, “diubah oleh Allah.” Kata “mengubah” berarti berubah dari dalam. Dan penilaian Paulus sepenuhnya benar; bahwa kita menghabiskan banyak waktu dan energi kita untuk menata ulang hidup kita agar sesuai dengan dunia ini, dan kita hanya menghabiskan sedikit waktu dan energi kita untuk membiarkan Tuhan mengubah kita dari lubuk hati. Dengan kerendahan hati datanglah hilangnya kesombongan, arogansi, dan ego; ketiga hal ini bersifat kanker bagi gereja karena melahirkan rasa superioritas dan inferioritas.
- Pola-pola dunia memberi tahu kita bahwa kita adalah yang terpenting, bahwa satu-satunya hal yang penting adalah menjadi yang terdepan, bahwa kesetaraan sebenarnya adalah ketidakadilan, bahwa kekerasan terhadap orang lain dapat dibenarkan, bahwa hak istimewa sebenarnya adalah hak kita. Pola-pola dunia akan membuat kita saling bermusuhan, akan menuntun kita untuk mengabaikan keadilan dan menolak belas kasihan bagi mereka yang membutuhkannya. Dunia ini adalah dunia yang kita huni setiap hari, dunia tempat tubuh kita, korban-korban hidup itu berada. Jadi, bagaimana kita dapat hidup di dunia dengan pola-pola kehancurannya? Kita harus diubahkan melalui pembaruan pikiran kita.
- Paulus adalah contoh dari transformasi tersebut, karena hidupnya diubah secara kuat dan dramatis oleh perjumpaannya dengan Yesus Kristus di jalan menuju Damaskus (Kisah Para Rasul 9). Seperti kehidupan Paulus, kehidupan kita memang akan selaras dengan Injil Yesus Kristus jika diubah oleh perjumpaan kita dengan Yesus di jalan kita sendiri menuju Damaskus. Perintah kata “karena itu” dalam Roma 12:1 menandakan perubahan arah dalam kehidupan seseorang yang telah mengalami perjumpaan dengan kasih Allah, karena kehidupan itu menjadi konsisten dengan kehidupan Injil. Alih-alih menyesuaikan diri dengan cita-cita dunia, seseorang akan mengambil jalan memutar 180 derajat menuju kehidupan pelayanan dan kerendahan hati di dalam dan di luar kebaktian Minggu pagi.
- Poin utama Paulus tentang karunia rohani, yang disebutkan dalam ayat 6, adalah bahwa Tuhan telah memberikan karunia-karunia ini kepada kita sebagai anggota tubuh Kristus. Jadi, kita harus menggunakan karunia khusus yang telah Tuhan berikan kepada kita untuk membantu tubuh berfungsi, bukan untuk mempromosikan diri kita sendiri atau menunjukkan bagaimana kita sebagai satu bagian tubuh lebih baik daripada orang lain yang merupakan bagian tubuh yang lain.
Kita dipanggil untuk menjalani hidup yang menghargai keberagaman karunia dan talenta yang melaluinya tubuh Kristus dapat berfungsi sebagaimana yang Tuhan inginkan. Tubuh ini berfungsi dari sikap rendah hati ketika setiap bagian diundang untuk berkontribusi (Roma 12:5-6). Salah satu konsekuensi dari kesetaraan ketergantungan pada kasih karunia ini adalah bahwa tidak seorang pun memiliki hak untuk membanggakan diri dalam hal keselamatan. Kesatuan dalam Kristus tidak berarti homogenitas, itu berarti keberagaman.
Kita menghormati Allah dengan melakukan apa yang telah Allah berikan kepada kita. Ayat ini juga memberi tahu kita bahwa kita bertanggung jawab atas karunia rohani kita. Kita harus menjadi “pengelola (atau pengurus/pelayan) yang baik dari kasih karunia Allah.” Seorang pelayan adalah orang yang mengelola dengan baik apa yang dipercayakan kepadanya. Allah telah memberi kita karunia, dan kita harus menjadi pengurus/ stewards) yang baik atas karunia itu.
- Paulus mengatakan bahwa Gereja adalah tubuh, dan bahwa setiap orang dalam tubuh memiliki peran penting untuk dimainkan. Di dunia, kita mengatakan bahwa dokter lebih berharga daripada perawat, dan bahwa kepala sekolah lebih penting daripada guru, dan bahwa mereka yang bekerja untuk mendapatkan bayaran lebih dihormati daripada mereka yang menjadi sukarelawan. Di gereja, kita mengatakan itu tidak masuk akal! Tidak ada urutan kekuasaan dalam Kerajaan Allah; semua sama, semua berharga, dan semua dibutuhkan.
Konsep Paulus tentang Gereja sebagai tubuh memiliki ciri lain, yaitu: Kita semua memiliki fungsi dalam tubuh, dan jika seseorang tidak menjalankan fungsinya dengan sebaik-baiknya – atau jika orang tersebut tidak menjalankan fungsinya sama sekali – maka seluruh tubuh menjadi kurang dari yang seharusnya. Jika paduan suara tidak memiliki tenor, itu bukanlah paduan suara yang lengkap. Jika sejumlah orang memutuskan bahwa mereka tidak akan lagi membagikan persembahan mereka, tubuh itu akan terhambat. Amin.
Leave a comment